Persaudaraan

Assalamu’alaikum

Saudaraku apa yang kita ketahui tentang buku? Mari kita sama-sama memahami sedikit tentang buku.

Buku adalah hasil karya pemikiran seseorang mengenai pengetahuan, pemahaman dan pengalaman yang disampaikan melalui tulisan-tulisan dari setiap kata menjadi sebuah kalimat hingga tersusun menjadi paragraf-paragraf yang utuh yang menjelaskan dan memaparkan tentang sesuatu, dengan  buku kita bisa mendapatkan atau menambah wawasan dan pengetahuan yang belum kita ketahui. Nah saudaraku kita jangan khawatir untuk mendapatkan pengetahuan sekarang lebih mudah dan praktis. Bagaimana tidak, sekarang kecanggihan penemuan media semakin membantu dengan alat serba modern dan itu semua tergantung kita mau memanfaatkannya untuk kebaikan atau mala menyia-nyiakannya dengan menggunakan media tertentu untuk keburukan. Salah satu contohnya melalui handphone, yang dengan alat ini kita bisa mendapatkan pengetahuan berbagai bidang disiplin ilmu baik dari buku, artikel ataupun dari tulisan-tulisan. Tentunya saya secara pribadi mengajak saudara semua saling berpartisipasi dalam pengembangan wawasan, pengetahuan dan keilmuan. Pada kesempatan ini mari sama-sama kita memulai membiasakan membaca baik dari buku, artikel ataupun tulisan dan media lainnya. Membaca merupakan penunjang bagaimana cara pandang, berpikir serta membiasakan kita dalam pengolahan kata. Selain itu, dengan membaca dapat membuka dan memberikan banyak referensi dari sudut pandang yang berbeda, sehingga kekakuan dalam pendapat bisa melenturkan kita dari panatik buta untuk memahami setiap keilmuan tertentu.

Saudaraku ada sedikit pengetahuan yang akan menjadi  pembahasan dalam tulisan ini, berharap semua bisa membacanya hingga selesai. Di sini akan disajikan tulisan tentang arti sebuah persaudaraan, boleh jadi kita berbeda pandangan namun apa salahnya kita memperbanyak referensi untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Yuk dibaca…..

Memahami dan mempelajari makna persaudaraan dari perspektif Kiai Maman Imanulhaq. Seperti kita ketahui akhir-akhir ini sudahkah makna tentang persaudaraan kita pahami? dan sebatas mana pemahaman kita tentang arti sebuah persaudaraan?, yuk sama-sama kita pelajari.

Oleh: Kiai Maman Imanulhaq

“Kibarkan panji cinta sejati dan persaudaraan abadi.”

Seorang ulama dari Jawa Timur yang juga mantan Rais Aam PB Nahdlatul Ulama, KH Ahmad Shiddiq, suatu ketika pernah menyitir konsep ukhuwah (persaudaraan). Menurutnya, ada tiga macam ukhuwah, yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan bangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan umat manusia). Ukhuwah basyariyah bisa juga disebut ukhuwah insaniyah.

Pada konsep ukhuwah Islamiyah, seseorang merasa saling bersaudara satu sama lain karena sama-sama memeluk agama Islam. Umat Islam yang dimaksudkan bisa berada di belahan dunia mana pun. Dalam konsep ukhuwah wathaniyah, seseorang merasa saling bersaudara satu sama lain karena merupakan bagian dari bangsa yang satu, misalnya bangsa Indonesia. Ukhuwah model ini tidak dibatasi oleh sekat-sekat primordial seperti agama, suku, jenis kelamin, dan sebagainya. Adapun, dalam konsep ukhuwah basyariyah, seseorang merasa saling bersaudara satu sama lain karena merupakan bagian dari umat manusia yang satu yang menyebar di berbagai penjuru dunia. Dalam konteks ini, semua umat manusia sama-sama merupakan makhluk ciptaan Tuhan.

Hampir sama dengan ukhuwah wathaniyah, ukhuwah basyariyah juga tidak dibatasi oleh baju luar dan sekat-sekat primordial seperti agama, suku, ras, bahasa, jenis kelamin, dan sebagainya. Menurut hemat saya, ukhuwah basyariyah merupakan level ukhuwah yang tertinggi dan mengatasi dua ukhuwah lainnya: Islamiyah dan wathaniyah. Artinya, setelah menapaki ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah, sudah sepatutnya seseorang menggapai ukhuwah yang lebih tinggi, lebih mendalam, dan lebih mendasar, yaitu ukhuwah basyariyah.

Dengan semangat ukhuwah basyariyah, seseorang melihat orang lain terutama sebagai sesama manusia, bukan apa agamanya, sukunya, bangsanya, golongannya, identitasnya, dan baju-baju luar lainnya. Kita mau menolong seseorang yang membutuhkan pertolongan bukan karena dia seagama, sesuku, atau sebangsa dengan kita misalnya, melainkan karena memang dia seorang manusia yang berada dalam kesulitan dan sudah seharusnya kita tolong, apa pun agama dan sukunya.

Dalam ukhuwah basyariyah, seseorang merasa menjadi bagian dari umat manusia yang satu: jika seorang manusia “dilukai”, maka lukalah seluruh umat manusia. Hal ini sesuai dengan pesan Alquran dalam surah Al-Mâ’idah [5] Ayat 32: barang siapa membunuh seorang manusia tanpa alasan yang kuat, maka dia bagaikan telah membunuh seluruh umat manusia. Sebaliknya, barang siapa menolong seseorang, maka ia telah menolong seluruh manusia.

Betapa sangat indah, kuat, dan mendalamnya pesan yang disampaikan ayat Alquran di atas. Kemudian, apakah ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah–yang masih mempertimbangkan dan mementingkan identitas formal dan baju luar seseorang–lantas tidak diperlukan lagi? Tentu saja keduanya masih dibutuhkan. Tetapi, seseorang perlu berhati-hati, jangan sampai ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah yang diekspresikannya terjatuh pada apa yang bisa diistilahkan sebagai “fanatisme” (juga “nasionalisme”) yang sempit dan picik.

Dalam konteks itu, misalnya, seseorang mau menolong dan mau berteman dengan orang lain karena faktor agamanya dan kebangsaannya belaka. Seseorang yang beragama Islam hanya mau “bersentuhan” dengan seseorang yang beragama Islam juga. Atau lebih sempit lagi hanya mau “bersentuhan” dengan seseorang yang sealiran/semazhab dan segolongan belaka. Seseorang juga hanya mau “bersentuhan” dan bekerja sama dengan seseorang yang secara formal diidentifikasi sebagai bangsa Indonesia.

Ukhuwah wathaniyah yang sempit juga bisa terjatuh pada apologi dan pembelaan seseorang yang tidak proporsional bagi bangsanya. Padahal, kalau bangsa kita salah dan berbuat jahat (misalnya mangagresi dan menjajah negara lain), maka menjadi kewajiban dari warganyalah untuk mengkritik, menyalahkan, dan meluruskannya. Meskipun agama, mazhab, dan kebangsaannya sama dengan kita, jika seseorang berbuat salah dan zalim, harus kita kritik dan tunjukkan kesalahannya secara lugas, jujur, dan tegas.

Dalam kasus lain, kadang ada ukhuwah Islamiyah yang dipahami secara sempit dan picik yang lantas menggerakkan seseorang untuk menempatkan para pemeluk agama di luar Islam sebagai saingan bahkan musuh yang layak diserang dan dibinasakan. Ukhuwah Islamiyah yang seperti ini tentu saja kontraproduktif karena diekspresikan secara fanatik dan dogmatik.

Sebagaimana kita simak dalam lembar-lembar sejarah umat manusia, fanatisme dan dogmatisme atas nama apa pun (misalnya atas nama “agama” dan ”ideologi” tertentu) bisa sangat membahayakan karena memunculkan kekerasan dan destruktivitas. Yang terpenting dalam kehidupan seseorang bukanlah identitas formal semisal agama, suku, bangsa, dan seterusnya, melainkan apa yang dilakukannya. Hal yang dilakukan seseorang ini secara sederhana mungkin bisa diidentifikasi sebagai moralitas dan tindakan sosialnya.

Seseorang (meskipun agama, keyakinan, suku, dan bangsanya sama dengan kita) sudah sepatutnya kita ingatkan, kita kritik, bahkan kita lawan jika apa yang diperbuatnya merugikan, menindas, dan menggerus hak orang lain. Dalam bahasa yang lain, apa yang merugikan, menindas, dan menggerus hak orang lain itu bisa diistilahkan sebagai tindakan jahat dan kriminal.

Lawan kita bukanlah orang yang beragama lain, melainkan orang yang bertindak zalim dan tidak adil, apa pun agamanya. Orang kafir, menurut cendekiawan Muslim bereputasi internasional Asghar Ali Engineer, bukanlah orang yang tidak beragama Islam, melainkan orang yang melakukan kezaliman, diskriminasi, penindasan, ketidakadilan, korupsi, dan semacamnya, apa pun agamanya.

Dengan semangat ukhuwah basyariyah/insaniyah, marilah kita tebarkan semangat “bersaudara” antarsesama manusia untuk mewujudkan kehidupan yang semakin baik, indah, adil, dan maslahah. Hadis Nabi yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim mengatakan,“Tidaklah beriman seseorang dari kamu sehingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.” Kata “saudara” dalam hadis di atas bukanlah sekadar sesama Muslim, melainkan sesama umat manusia.

Membaca tulisan tentang persaudaraan perspektif Kiai Maman Imanulhaq  di atas mengajak kita memahami tentang arti persaudaraan dari 3 macam sudut pandang ukhuwah (persaudaraan) yaitu ukhuwah sesama agama, bangsa atau negara dan lebih luasnya ukhuwah sesama manusia. Ketiga macam ukhuwah ini, memberikan kita pemahaman yang detail serta mendalam dari sebuah penjelasan dan kutipan pesan Allah Qur’an maupun hadis di atas. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dan menjalankan apa yang menjadi tuntutan dalam arti sebuah persaudaraan (ukhuwah) dengan sebenar-benarnya.

Apa dan bagaimana tanggapan yang saudara pahami tentang sudut pandang persaudaraan perspektif Kiai Maman Imanulhaq  di atas?

Semoga bermanfaat….

3 replies to “Persaudaraan

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai
close-alt close collapse comment ellipsis expand gallery heart lock menu next pinned previous reply search share star